Ngeri! Meskipun jarang diekspos media, fenomena mahasiswa tingkat akhir yg gampang terserang depresi/stress sepertinya layak mendapat perhatian tersendiri. Sering terdengar kabar mengenai mahasiswa/i yang bunuh diri karena suatu sebab, biasanya terjadi pada mahasiswa semester akhir.
Menjadi mahasiswa memaksa seseorang untuk menjadi dewasa. Bagi mereka yang biasa tinggal dengan orang tua dan mulai hidup sendiri di kost2an, jelas semuanya akan berubah drastis. Jika mereka tak cukup beruntung, akan sulit mendapatkan teman yang benar-benar bisa diandalkan. Toh kalaupun ada, sebagian akan merenggang seiring berjalannya waktu.
Pola ini umum terjadi di Indonesia. Sejak kecil kita hidup dalam situasi serba teratur. Bangun pagi, berangkat sekolah, pergi main, tidur, dan sekolah lagi. Pikiran kita selalu disiapkan untuk event selanjutnya. Sangat susah untuk melarkan diri dari rutinitas. Sehari kita bolos sekolah tanpa alasan akan menjadi persoalan serius. Sekali kita sakit akan mengundang banyak perhatian, dan seterusnya. Kondisi ini akan berlangsung hingga selesai SMA. Begitupun awal2 kuliah, setidaknya 2 semester pertama masih akan ada perhatian2 serupa dari teman2 sekelas.
Memasuki semester 3, motivasi mulai menurun. Bolos kuliah mulai menjadi hal yang wajar. Seminggu kita menghilang dari kampus tak akan membuat gempar. Meskipun hal ini terjadi secara bertahap, sebagian dari kita mengalami euforia shock. Tak siap menghadapi kebebasan. Pada level inilah mahasiswa sering terjerumus dalam dunia hura hura. Jika kondisi ini didukung oleh kondisi finansial yang mencukupi, maka hedonisme akan semakin parah. Sebaliknya, tanpa uang untuk hura hura, moral dan psikis akan terpengaruh. Banyak kasus pencurian yang melibatkan mahasiswa. Sebagai modal untuk menjadi seorang hedon, mengejar kesenangan, status sosial, dan pemenuhan gengsi darah muda. Semua berpangkal dari ketidaksiapan menghadapi kebebasan.
Sebagian akan sadar dan menjadi dewasa. Sebagian yang lain akan tenggelam dan tak pernah dewasa. Ketika sadar semuanya sudah terlambat, tak ada kompetensi yg mereka punya selain pesta.
Secara logis, kekosongan sering melanda mereka yang memasuki tahap akhir skripsi, namun sekaligus terserang demotivasi. Kekosongan akan melanda diiringi ketakutan akan masa depan.
Kesimpulannya:
1. Persiapkan dirimu untuk menghadapi perubahan.
2. Jangan silau dengan gemerlap hedonisme. Kenali, namunnjgn sampai kau terjerat demi kesenangan, gengsi, dan gaya hidup.
3. Sholat 5 waktu. Mungkin terkesan klise dan dogmatis, namun alasan dibalik sholat 5 waktu dapat menempatkan event dalam hidup kita. Sehingga kekosongan tak akan menyerang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 komentar:
VirKill is back nich, ceritanya?? Postingan blog yg dulu2 maneee?? Bikin postingan ttg indonesia vs malaysia dong... seru ntuh...
Lama g diupdate uhh...
jujur saya tidka suka post ini (maaf)
Posting Komentar